Pantun Pujangga Baru “Chairil Anwar”

Seorang penyair menangis:

 

Ketika perahu hendak bertolak,

berangsur meninggalkan pantai,

pandangan tak dapat terselak,

mata masih mencapai.

 

Semakin sayup tampaknya pantai,

tenggelam ke dalam air,

aku tunduk terdiam,

air mata hampir mengalir.

 

Berpaling aku kepada anak,

bersamaku turut menyebrang,

hati bertanya:

Betapa nasibmu diranyau-orang?

 

 

Sumber buku: Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik Sastra dan Essay (H.B. Jassin

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Kolom Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: